WHAT LOVE MAKES US

Suatu Senin siang di kelas 4, 13 April 2015

Ve : I love how you look today, Miss

Me : Thank you!

Ve : You look like someone in love

Me : Really? Wow! How does that look like? How do I look?

Ve : I don’t know. I can’t explain it. I just know. Love makes us more beautiful.

A woman is beautiful because she is loved and I am :)

I’ll miss you, son

“This Tyrannosaurus Rex is for you!”, Vindo memberikan selembar kertas bergambar T-Rex versinya yang sungguh imut. Aku mengucapkan terima kasih padanya dan kembali mengajar.

Ketika akan pulang, Vindo menyapaku lagi sambil meminta bantuanku membereskan barang-barangnya yang super berantakan. Tak henti ia bercerita padaku tentang gambar yang ia berikan di awal kelas. Ia berkata senang jika aku senang menerimanya. Aku memang pernah mengatakan aku senang sekali dengan gaya menggambarnya yang khas.

“I’ll miss you, son!”, kata itu mencelat begitu saja keluar dari mulutku saat mendengarkan murid kelas 6 penyandang asperger yang kalau bicara seperti kamus nggak pakai titik koma itu.

Nggak kusangka, Vindo langsung terdiam dan memandangku lekat-lekat.

“I…I never thought you would say that!”

“Oh, I’m sorry. Is it okay to say that to you?” tanyaku melihat rautnya yang terbengong.

“It is okay. I mean you can say that to me thousand times! This is my first time i have my teacher said that to me. Do you really mean it?”

“For sure.”

“Why?”

“I don’t know. Because you are you, i guess. And it’s always good to have you around.“, aku hanya mengatakan perasaanku sih sebenarnya.

Vindo terdiam beberapa saat dan aku melanjutkan beberes sisa-sisa kegiatan kelasnya barusan.

“You are so weird but nevermind. I like you being weird and telling me you’d miss me. Bye.”

See…I miss you already, son!

Keluarga

Mataku masih sembab saat akan mengajar kelas 6 di Rabu pertama Maret 2015 siang itu. Pasalnya abang ipar yang dekat denganku baru saja mengalami serangan jantung yang kedua. Hati tidak menentu ingin segera ke rumah sakit menemui kakak dan ipar.

Tak kusangka rupanya beberapa murid memerhatikan mataku yang masih merah setelah menangis itu. Lagi-lagi si Jojon yang menghampiriku, menanyakan apakah aku baik-baik saja dengan tampilan mata dan hidung merah begitu. Akhirnya kujawab bahwa aku sedang sedikit gelisah karena kakakku terkena serangan jantung dan masuk ICU. Jojon segera kembali ke teman-temannya dan menyuruh mereka tidak banyak omong untuk menjaga perasaanku. Kelas yang biasanya agak ramai kini mendadak senyap.

Seminggu akhirnya berlalu dan abang ipar pun sudah dipindah ke ruang rawat biasa dan dijadwalkan untuk operasi bypass jantung di bulan Juli mendatang. Rabu berikutnya pun tiba. Aku memanggil muridku satu persatu untuk kunilai hasil karyanya. Sampai tiba giliran Jojon. Ia menunjukkan hasil kerjanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tes lisan dariku dengan santun. Usai interview, aku menganggukkan kepalaku dan dengan isyarat tangan terbuka mempersilahkannya untuk kembali ke meja kelompoknya.

Jojon berjalan kembali ke mejanya namun mendadak ia kembali lagi. Ia merunduk dan berbisik seolah ingin mengatakan sesuatu yang rahasia. Ia bertanya dalam bahasa Indonesia,

“Maaf Miss, apa aku boleh tanya sesuatu?”

“Sure. What is it?”

“Mmmm..maaf ya Miss. Aku cuma ingin tanya gimana keadaan abangnya Miss? Apa udah mendingan? Masih di ICU atau sudah keluar? Perlu operasi atau apa gitu Miss? Miss masih sedih?”

Aku tercekat penuh haru memandanginya. Jojon bengong ditatap begitu. Ia minta maaf lagi. Mungkin dia kira dia salah dan membuatku sedih lagi. Aku buru-buru menjawab Jojon mengatakan padanya kondisi terakhir kakakku yang membaik dan sudah keluar ICU walau untuk operasi masih menunggu sekitar 4 bulan lagi. Aku menyatakan terima kasih atas perhatian tulusnya. Ia menunduk sambil menjawab, tidak usah dipikirkan. Dia mengatakan ia mendoakanku dan keselamatan keluargaku, membuatku kembali meneteskan air mata. Jojon kaget melihatku mbrebes mili. Dia lagi-lagi meminta maaf.

“No, you don’t have to. I cried because i was touched by your kind attention and gestures…”

Ingin sekali rasanya kupeluk Jojon untuk menyatakan terima kasihku atas perhatian dan sikapnya yang manis itu, tapi hal itu tidak kulakukan. Aku hanya menjabat tangannya dengan kedua tanganku selama beberapa saat.Jojon membalas jabat tanganku dengan erat,

It is okay Miss. Kita semua support Miss. Kita kan di sini keluarga harus saling doain sama support. Kan Miss yang selalu bilang begitu ke kita.”

I’m so blessed to have you as family, son…

Empathic

“You’re doing a tough job, huh miss? I mean like you are teaching so many classes. 21? Yes, 21 classes, right? Times 24 up to 28 students. It must be hard to remember their names yet you have to give fair marks for them. It must be pretty difficult. Some of them might not understand what you are talking about and they end up messing up your room. I can imagine how hard it is for you yet you’ve managed to stay patient bearing with us.”

“You know what? You’re so emphatic.”

“What is emphatic?”

“It means you can put yourself in other’s shoes”

“What?! Whose shoes?”

“Never mind. I just want to say thank you for acknowledging me. You speak up my mind as if you read it.”

“I can’t read your mind, i just told you what i have in mind and imagining if i were you”

“And that’s what we call emphatic!”

~ after school surprising convo with one grade 6 student. Thanks Dave!

Percakapan abad ini

Anak-anak kelas 6 merubung sebuah lukisan yang indah karya salah seorang murid perempuan kelas 6 lainnya yang kupajang di kelas. Mereka tertawa-tawa menggoda Jojon yang katanya naksir Auw, sang pelukis itu. Aku jadi mesem sendiri mengingat dulu teman-temannya selalu bilang Jojon pacaran dengan Fey, teman sekelasnya

“Jon, kamu sekarang pacaran sama Auw?”

“Nggak Miss. Itu sih maunya aku. Tapi enggak kok, kita belum pacaran. Akunya aja yang suka.”, Jojon menjawab dengan lagak kalemnya.

“Belum pacaran?”, tanyaku sambil terbahak geli.

“Iya Miss. Kan harus PD. Jangan bilang enggak duluan. Bilang aja belum.”

“Hmmm, kukira kamu pacaran sama Fey seperti kata teman-temanmu.”

“Udah putus miiiiiiss…”

“Kenapa putus?” *gurunya kepo*

“Soalnya dia itu rese banget. Banyak maunya. Nggak mau ngertiin kalau aku tuh capek, banyak PR, mau ujian, mau main sama teman-teman lain juga. Maunya diperhatiin terus. Makanya berantem.”

“Oh gitu. Wah  maaf ya, aku menaruhmu satu grup dengan si Fey. Aku kan nggak tau kamu pacaran sama dia.”

“Nggak apa-apa Miss. Emang harus begitu. Lagian aku udah move on kok. Nggak tau ya kalau dia masih ngarepin aku. Aku sih sekarang mau fokus belajar aja biar Auw naksir aku.”

“Ya kaliii, kamu belajar biar Auw seneng sama kamu. Belajar tuh biar kamu yang tambah pengetahuan Jon!”

“Ya nggak apa-apa keleus Miss. Daripada nggak belajar ya mendingan belajar biar ditaksir gebetan.”

“Kalau Auw nggak naksir kamu gimana? Kamu berhenti belajar?”

“Ya enggak lah miss. Kalau dia nggak naksir ya move on. Cari yang baru. Jangan kayak orang susah ah, Miss! Hahahaha”

Ckckck…jaman aku kelas 6 SD, mustahil bisa ngobrol begini sama guru. XD

Agama

Setelah pindah ngajar ke sekolah internesyenel ini, baru kerasa yang namanya jadi minoritas. Hehehehe. Selama ini, aku selalu ngerasa kalau orang udah pasti tau bahwa fashion juga bisa menjadi penanda identitas keagamaan seseorang. Ternyata aku salah. Misalnya aja, ternyata masih banyak murid kelas 6 yang bertanya apa agamaku meski aku pakai jilbab begini.

Penasaran, aku sering balik bertanya, menurut mereka agamaku apa.

“Miss, katolik ya?”

“Ihhh, nggak lagiii. Miss pasti nggak katolik. Miss Buddha kan Miss?”

Aku tertawa,

“Nggak mungkin, miss pasti katolik karena pakai kerudung kayak suster di gereja aku.”

“Di Buddha juga pakai kain-kain gitu kok!”

Akhirnya aku berkata, “Bukan. Bukan Katolik atau Buddha kok.”

“Ahhh, aku tau! Miss Hindu! Miss katanya ke Bali kan kemarin pas liburan? Miss pasti orang Bali dan orang Bali agamanya pasti Hindu!”

:D

Being an Adult

student : i feel so sorry for you miss

me : why?

student : because you’re an adult. i bet life is not fun anymore when you’re an adult. don’t you miss your childhood?

me : …