IMAGO DEI

“Aku lagi menggambar Tuhan!”

Anak kelas satu itu berseru dengan ceria. Jari-jarinya yang mungil menggenggam pensil dengan kuat, membentuk lingkaran dengan garis yang amat tegas. Digambarnya dua buah lingkaran kecil dengan titik di tengahnya.

“Apa itu?”

“Matanya Tuhan! Matanya keciiiiil sekali”

Aku terkikik geli dan bahagia dalam hati melihat binar matanya saat ia menoleh padaku sambil tersenyum lebar. Matanya yang bulat berkejap ceria. Ia melanjutkan menggambar sambil berceloteh tentang isi gambarnya.

“Ini Tuhannya matanya kecil tapi hebat. Dia bisa ngeliat semuanya! Seisi dunia sama semua orang. Keliatan tulangnya, hatinya sama pikirannya! Super! Ini Tuhannya padahal nggak keliatan tapi Dia keren bisa liat semuanya.”

Dan yang paling keren, Dia menciptakan anak sekeren kamu dan mempertemukannya denganku!

SEKOLAH BARU dan HIDUP BARU

Setelah sekian lama absen posting, si Bugurufunky sudah pindah kerja ke sekolah lain. Rasanya masih sering takjub sendiri kok akhirnya berani juga meninggalkan zona kenyamanan setelah 9 tahun berkarya dan sudah kerasan di sekolah yang lama. Pertimbangan waktu itu adalah mencari pengalaman baru dengan benefit yang tentunya lebih baik.

Meski sudah mengajar hampir 12 tahun dan sempat merasakan 3 sistem yang berbeda, tetap saja memasuki tempat baru ini terasa mengejutkan. Tentunya yang paling terasa adalah budaya sekolahnya. Misalnya yang biasanya jam 7 baru benar-benar bangun dan berkemas, sekarang jam 7 sudah masuk. Ngantuk banget! Hihihihi. Yang biasanya menghadapi murid pencurhat sekarang menghadapi murid yang cenderung tertutup.

Hal lainnya, tempat baru ini terasa lebih formal dan academic oriented *peace yow!*. Beda dengan tempat lama yang lebih ekspresif dan multiple intelligence banget. Semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang saling melengkapi. Aku bersyukur bisa pernah berada dan berkarya di semua tempat kerjaku. Masing-masing memperkaya pengalaman dengan keunikannya masing-masing.

Cerita lain selama hibernasi menulis blog ini adalah, aku akhirnya berhasil juga menulis novel. Yippe! Ayo, pada beli novel perdana bugurufunky yang berjudul Lingkar ya!

Oh, ya…Bugurufunky juga akan hadir dalam bentuk buku. Ada beberapa kisah lama dan banyak kisah baru yang belum pernah ditulis di blog ini di dalamnya. Tunggu tanggal edarnya segera ya!

KADO DI HARI GURU

Dikunjungi muridku 8 tahun lalu yang ternyata sekarang kuliah seni di Sydney, Australia. Terakhir ketemu dia 2 tahun lalu. Dia sedang liburan dan datang khusus ke sekolah untuk ketemu aku dan menunjukkan portofolio karyanya yang luar biasa sambil curhat dan minta pendapat. 
Nggak ada yang lebih menyenangkan buat seorang guru daripada diingat seorang murid yang sudah lama tidak bertemu dan mengetahui kita selalu punya tempat dalam kenangan manisnya, bisa membuat perubahan dalam hidupnya dan dimintai pendapat untuk kemajuannya. Terima kasih, Nak. Kamu nggak tau hari ini hari guru , tapi kedatanganmu jadi berasa kado buatku!

MAAF

“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong.” 

Itu kata Mahatma Gandhi. Memaafkan itu memang bukan perkara yang mudah. Sekali ego sudah terluka, rasanya sulit sekali melupakan apalagi memaafkan. Manusiawi kok. Tapi yang tidak manusiawi itu ketika kita mewariskan amarah dan dendam kita pada anak cucu kita. Ah, selalu ada penyelesaian untuk semua masalah dan tidak ada yang lebih baik untuk diturunkan pada generasi mendatang melainkan nilai-nilai kebaikan.

Mari kita saling meminta maaf dan memberi maaf pada mereka yang pernah melukai hati kita, apalagi jika mereka adalah saudara dan sahabat kita sendiri. Jangan sampai ada lagi celetukan seperti yang terlontar dari mulut mungil seorang muridku, anak kelas 2 SD yang polos dan lugu itu 

“Miss, aku pokoknya nggak mau baikan sama dia! Aku benci sama dia! Nggak bisa dimaafkan!”

“Tidak ada yang tidak bisa dimaafkan, nak.”

” Ada! Mama aku sama adiknya aja baru putus hubungan saudara! Ada iklannya loh di koran. Soalnya kata mama aku nggak semua orang boleh dimaafkan!”

 

 

Salam Perpisahan

Anak laki-laki itu tiba-tiba memelukku erat. Hari itu adalah hari perpisahan kelas 5. Aku telah bersamanya selama 4 tahun terakhir dan ia sudah pamit akan meneruskan sekolah dengan cara home schooling saja. Katanya ibunya berpikir itu lebih baik untuk perkembangannya yang lambat belajar. 

Phi memang cenderung lambat mengolah informasi. Perlu beberapa kali untuk menjelaskan  sebuah instruksi sederhana padanya dengan hasil yang kebanyakan melenceng jauh dari instruksi sebenarnya. Meski begitu, Phi memiliki sikap yang baik. Paling tidak ia selalu berusaha sebaik-baiknya. Anak itu santun dan halus sekali. Tutur bahasanya baik dan ia penuh perhatian tulus. 

Aku tidak menuntut banyak darinya. Buatku yang penting dia mau melakukan tugasnya, itu sudah cukup bagiku. Kubesarkan hatiku sendiri bahwa setiap anak unik dan istimewa. Suatu saat, segera, kuharap Phi akan menemukan bakat terbesarnya dan bisa berkembang dari situ.

Sungguh aku tidak menyangka akan ditubruk begitu oleh Phi. Ia memelukku semenit lamanya. Matanya berkaca-kaca. Akan selalu kuingat kata-kata terakhirnya padaku,

“Terima kasih ya Miss. Miss tidak pernah bilang aku anak bodoh padahal aku memang bodoh. I‘ll miss you, Miss.”

Si Mbak Suster Nanny

Hampir semua murid di sekolah ini punya seseorang yang turut membantu membesarkan mereka. Sebutannya beragam, mulai dari ‘Mbak’, ‘Nanny’, ‘Pembantu’, ‘ Asisten‘ sampai ‘Suster’. Mereka ini yang seringkali mengantar jemput para murid dan menyiapkan segala kebutuhan anak-anak itu. Kadang, mereka juga membantu anak asuhnya membuat PR. Hebatlah pokoknya!

Penampilan para nannies ini nggak kalah modis dengan bosnya. Sudah nggak kaget juga sih kalau melihat mereka pakai baju atau gadget bermerek. Biasanya lungsuran dari bos-nya atau mereka memang dibelikan baru. Jaman ponselku masih Nokia 1112 yang hitam putih, the nannies ini sudah duluan mainan Black Berry. Beberapa juga mulai fasih berbahasa Inggris karena anak asuhannya berbahasa Inggris. Jadi mau tidak mau mereka belajar juga. Keren ya?

Termasuk salah satunya perempuan yang biasa dipanggil “Suster” oleh anak asuhnya yang sudah kelas 5 ini. Dia sudah ikut bekerja dengan keluarga si murid sejak anak itu masih bayi. Kalau dihitung, masa bekerjanya sudah sekitar sepuluh tahunan. Rasanya si Suster ini sudah hafal luar kepala berbagai jadwal, kelakuan dan kebiasaan si anak. Kadang melebihi sang ibu kandung anak itu sendiri.

Suatu ketika, saat hendak menjelaskan tugas si anak pada sang Suster (biar bisa diingatkan dan dibantu di rumah kadang kita menjelaskan tugas tersebut pada nanny-nya) kami baru sadar kalau kami belum tahu namanya. Jadi bertanyalah kami pada sang murid,

“Nak, coba tolong panggil suster siapa itu namanya? Sustermu itu dipanggil kesini ya, ada yang mau kita tanyakan.”

“Oh, oke..”
“Oh,ya, ngomong-ngomong siapa ya nama sustermu?”
“………..”

Sang murid mulai garuk-garuk kepala dan kelihatan bingung. Lalu dengan cengengesan dia menjawab bahwa dia tidak tahu nama orang yang sudah mengasuhnya sejak bayi itu. Langsung saja dia ditugasi untuk bertanya pada sang suster.

Ketika akhirnya ada kesempatan bicara dengan sang suster, baru terungkap bahwa memang keluarga itu tidak pernah mengetahui nama sang suster dan memang tidak pernah menanyakannya juga. Kadang dia diperkenalkan sebagai mbak suster atau suster nanny. Selama sepuluh tahun si mbak suster nanny ini hidup bersama sebuah keluarga yang sama sekali tidak tahu namanya! Dan si mbak suster nanny ini hanya tertawa ceria seperti biasa ketika kuungkapkan keherananku pada situasinya,

“Siapa saya itu nggak penting, Miss. Yang penting hasil kerja saya dinilai bagus dan bener!”

“Daddy’s Issue”

Meminjam istilah di film-film barat untuk masalah pelik atau traumatik dengan ayah kita. 

Siang ini beberapa anak datang di saat istirahat untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum rampung. Ada juga yang mempersiapkan gambar untuk sebuah lomba. Saat seorang anak perempuan menggambarkan dirinya hanya berdua dengan sang ibu, salah seorang temannya bertanya dimana ia akan meletakkan gambar ayahnya. Di luar dugaan, anak tersebut menggeleng cepat dan menjawab judes,

“Aku nggak mau gambar ayahku!”

“Ih,kamu tega banget. Masak cuma mama kamu aja yang digambar! Papamu mana?”

“Pokoknya aku nggak mau gambar dia! Oke?! Aku nggak mau ngomongin ini lagi!”

Aku dan kedua temannya terkejut juga dengan nadanya yang keras begitu. Namun sang teman yang barusan bertanya itu langsung menyahut dengan santainya,

“Oh oke. Lagi ada masalah ya sama papamu? Nggak apa-apa kok. Biasa. Aku juga sudah lama nggak ketemu papa asliku.”

“Lho, memangnya papamu sekarang palsu?”, tanyaku yang makin terkejut.

“Nggak, Miss. Mama sudah ganti beberapa papa baru. Kalau papa asliku sudah lama tidak bertemu karena dia sakit jiwa. Aku jadi takut ketemu dia.”

Belum hilang kagetku, murid yang ketiga menyambung pembicaraan kedua temannya,

“Papa sama mama aku juga, berantem terus. Tapi aku sih masih ketemu papaku. Kamu sudah nggak sama sekali ya?”

“Nggak. Males juga sih akunya, takut! Daripada kenapa-napa lebih baik nggak ketemu aja.”

Mereka berdua lantas saling cerita bagaimana perasaan mereka saat kedua orangtua berpisah dan bagaimana perasaan mereka kini terhadap ayah masing-masing. Sementara murid yang enggan menggambar ayahnya tetap terdiam sambil mengatupkan bibir rapat-rapat seperti menahan sesuatu. Aku sendiri cuma bisa tercenung, mengucapkan sedikit kalimat penghiburan seperti 

I’m so sorry to hear that, pasti berat ya buat kalian. Kalau begitu bantu mama kalian dengan jadi anak yang baik dan rajin belajar ya. Bikin mama bahagia karena apa yang dilewati mama dan kalian itu berat lhooo…”,

tanpa tahu sebenarnya apa kalimat semacam itu ada gunanya untuk mereka. Apakah mereka masih merasa sakit atau malah belum mengerti perasaan mereka sendiri atau memang mereka sudah kebas. Seperti muridku yang kedua ini, yang sambil tertawa-tawa menanggapiku bahwa mamanya sudah baik-baik saja dan dia selalu memberi nasihat dan mendoakan mamanya setiap kali ganti papa baru. Kadang seorang anak malah bisa lebih bijaksana daripada orangtuanya.

Jadi teringat juga obrolan kemarin sore dengan salah seorang saudara tentang mengapa kita menginginkan  hadirnya seorang anak. Apakah karena kita merasa begitulah seharusnya siklus kehidupan ataukah karena  kita merasa membutuhkan pengikat dengan pasangan kita atau memang karena kita dengan sadar menginginkan seorang penerus bagi nilai dan kehidupan kita atau karena hal lain lagi apapun itu? Percakapan ketiga muridku tadi siang tiba-tiba menyadarkanku bahwa dibutuhkan kesadaran untuk berkomitmen seumur hidup saat kita memilih menghadirkan sebuah kehidupan ke dunia ini. Mungkin suami dan istri bisa menjadi mantan, tapi anak selamanya adalah darah daging yang tak bisa dipisah oleh apapun.